Misinformasi perang memasuki fase baru ketika gambar AI mampu membuat tragedi terlihat nyata, viral, dan emosional sebelum publik sempat memeriksa asal-usulnya. Dalam konflik, citra selalu menjadi senjata. Bedanya, kini senjata itu dapat diproduksi tanpa kamera, tanpa saksi, dan tanpa lokasi nyata.
Kajian arXiv tentang synthetic media shift menunjukkan bagaimana media sintetis mengubah ekosistem informasi. Gambar, video, dan audio buatan AI tidak hanya menambah jumlah konten palsu, tetapi mengaburkan batas antara dokumentasi dan imajinasi. Akibatnya, publik bukan hanya bertanya apakah sebuah informasi benar, tetapi apakah realitas visual itu pernah terjadi.
Riset tentang generative AI and disinformation menempatkan AI sebagai akselerator produksi narasi palsu. Biaya membuat konten menurun drastis, kecepatan distribusi meningkat, dan aktor politik dapat menguji banyak versi pesan untuk melihat mana yang paling emosional dan paling mudah viral.
Perdebatan seputar gambar viral seperti ‘All Eyes on Rafah’ memperlihatkan kompleksitas baru. Sebagian orang melihat citra AI sebagai alat solidaritas; sebagian lain mengkritiknya karena dapat menggantikan dokumentasi nyata dan mengaburkan penderitaan konkret di lapangan. Bahkan ketika niatnya moral, medium sintetis tetap membawa risiko epistemik.
Fenomena ini menguat setelah generative AI menjadi mudah dipakai publik. Dalam konflik yang menarik perhatian internasional, gambar sintetis dapat bergerak lebih cepat daripada klarifikasi jurnalis. Platform memberi panggung, algoritma memberi akselerasi, dan emosi publik menjadi bahan bakar distribusi.
Pendukung penggunaan gambar AI untuk advokasi akan mengatakan bahwa visual sintetis dapat membantu menyuarakan penderitaan ketika akses jurnalis terbatas. Dalam kondisi konflik, simbol sering menjadi alat mobilisasi moral.
Namun ahli disinformasi akan mengingatkan bahwa ruang publik membutuhkan bukti, bukan hanya emosi. Jika publik terbiasa menerima gambar sintetis sebagai pengganti fakta lapangan, maka kepercayaan terhadap dokumentasi asli juga ikut rusak.
Di satu sisi, AI dapat memperkuat kampanye kemanusiaan, membuat isu jauh terasa dekat, dan mendorong orang yang sebelumnya pasif untuk peduli.
Di sisi lain, ketika citra palsu bercampur dengan bukti nyata, musuh kebenaran mendapat keuntungan. Pelaku kekerasan dapat menuduh dokumentasi asli sebagai AI, sementara propaganda palsu dapat menyamar sebagai kesaksian.
Bagi Petra, AI dalam konflik bukan hanya problem teknologi, tetapi problem ontologi politik. Jika publik tidak lagi yakin apa yang nyata, maka kekuasaan memiliki ruang lebih besar untuk memanipulasi, menyangkal, dan menunda akuntabilitas.
Secara akademik, fenomena ini berkaitan dengan post-truth dan information disorder. Kebenaran tidak selalu kalah karena tidak ada bukti, tetapi karena terlalu banyak konten yang membuat publik lelah memverifikasi.
Petra menilai bahwa gambar AI dalam perang harus diperlakukan seperti api. Ia bisa menerangi penderitaan, tetapi juga bisa membakar kepercayaan publik terhadap fakta. Dalam konflik, simpati tanpa akurasi dapat berubah menjadi bahan bakar manipulasi.
Kesimpulannya, media sintetis menuntut standar baru dalam jurnalisme, aktivisme, dan literasi digital. Label AI, verifikasi sumber, metadata, dan kehati-hatian editorial bukan lagi pilihan tambahan, melainkan syarat moral.
Berita ini mengingatkan bahwa korban perang membutuhkan kebenaran, bukan sekadar visual yang membuat dunia berhenti menggulir layar selama beberapa detik. Solidaritas yang kuat harus berdiri di atas fakta yang kuat.
Quote Petra
“Di era gambar sintetis, kebohongan tidak lagi perlu meniru kata-kata; ia cukup meniru air mata.”
Sumber
- arXiv – Synthetic Media Shift: https://arxiv.org/abs/2604.15372
- arXiv – Generative AI and disinformation: https://arxiv.org/abs/2601.00306
- arXiv – Deepfakes in Canadian Election: https://arxiv.org/abs/2512.13915
- New York Post – All Eyes on Rafah AI image debate: https://nypost.com/2024/05/30/all-eyes-on-rafah-viral-ripped-for-fake-ai-images-of-war-torn-gaza/
Berita Terkait
- Synthetic media and virality, arXiv. https://arxiv.org/abs/2604.15372
- Deepfakes in election content, arXiv. https://arxiv.org/abs/2512.13915
- All Eyes on Rafah AI debate, New York Post. https://nypost.com/2024/05/30/all-eyes-on-rafah-viral-ripped-for-fake-ai-images-of-war-torn-gaza/




