Skip to content
Gen Z Merasa Tidak Dimanfaatkan di Tempat Kerja: Krisis Makna atau Krisis Manajemen
News & Commentary

Gen Z Merasa Tidak Dimanfaatkan di Tempat Kerja: Krisis Makna atau Krisis Manajemen


Gen Z merasa tidak dimanfaatkan di tempat kerja, dan keluhan ini lebih dalam daripada sekadar bosan dengan tugas awal karier. Ia memperlihatkan krisis manajemen: generasi muda masuk ke organisasi dengan keterampilan digital, ambisi belajar, dan ekspektasi makna, tetapi sering ditempatkan dalam struktur kerja lama yang tidak tahu cara memaksimalkan mereka.

Deloitte dalam survei Gen Z dan milenial 2026 menunjukkan bahwa generasi muda menaruh perhatian besar pada makna kerja, kesejahteraan, biaya hidup, dan masa depan. Mereka tidak hanya mencari gaji; mereka ingin memahami mengapa pekerjaan mereka penting dan bagaimana pekerjaan itu terhubung dengan pertumbuhan diri.

Gallup melalui State of the Global Workplace menegaskan pentingnya engagement dan kualitas manajer. Data semacam ini relevan karena underutilization sering bukan masalah kemampuan pekerja, tetapi masalah desain pekerjaan. Talenta muda bisa terlihat tidak produktif jika sistem hanya memberi mereka tugas repetitif tanpa ruang belajar.

Riset tentang quality of work life dan engagement Gen Z memperlihatkan bahwa kualitas lingkungan kerja memengaruhi keterlibatan. Generasi ini tumbuh dengan akses informasi tinggi, sehingga lebih cepat membaca ketidakkonsistenan antara janji employer branding dan realitas kantor.

Rasa tidak dimanfaatkan ini menguat ketika generasi muda masuk kantor pascapandemi, membawa ekspektasi tentang fleksibilitas, makna, dan pertumbuhan. Banyak perusahaan masih memakai desain kerja lama: tugas sempit, komunikasi hierarkis, dan jalur belajar yang kabur. Akibatnya, potensi digital yang besar sering berakhir sebagai disengagement.

Sebagian pemimpin perusahaan melihat Gen Z sebagai terlalu menuntut, cepat bosan, atau kurang tahan tekanan. Pandangan ini populer, tetapi sering dangkal. Ia mengabaikan fakta bahwa generasi ini hidup dalam tekanan ekonomi dan digital yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Sebaliknya, peneliti organisasi akan melihat sinyal ini sebagai kegagalan manajemen adaptif. Jika perusahaan tidak mampu memberi feedback, jalur belajar, otonomi, dan konteks strategis, maka talenta muda akan merasa hanya menjadi operator kecil dalam mesin besar.

Di satu sisi, Gen Z juga perlu memahami bahwa karier membutuhkan proses, disiplin, dan kesabaran. Tidak semua pekerjaan awal akan terasa besar, dan tidak semua aspirasi dapat dipenuhi seketika.

Di sisi lain, perusahaan tidak boleh memakai alasan ‘proses’ untuk membenarkan pemborosan talenta. Memberi tugas tanpa makna dan tanpa pembelajaran adalah cara paling cepat membuat generasi muda kehilangan energi.

Bagi Petra, krisis Gen Z di kantor adalah krisis makna yang bertabrakan dengan krisis manajemen. Generasi ini tidak menolak kerja; mereka menolak kerja yang terasa kosong, tidak transparan, dan tidak memberi ruang menjadi lebih bernilai.

Secara akademik, fenomena ini dapat dibaca melalui job design dan self-determination theory. Manusia membutuhkan kompetensi, otonomi, dan keterhubungan. Jika tiga unsur itu hilang, pekerjaan berubah menjadi rutinitas tanpa jiwa.

Petra menilai bahwa perusahaan masa depan harus berhenti melihat Gen Z sebagai masalah budaya. Mereka adalah alarm yang menunjukkan bahwa sistem kerja lama tidak lagi cukup kuat untuk menampung manusia yang tumbuh dalam dunia digital, cepat, dan penuh pilihan.

Kesimpulannya, rasa tidak dimanfaatkan bukan keluhan kecil. Ia adalah tanda bahwa organisasi perlu memperbaiki cara memberi tugas, melatih, mendengar, dan membangun jalur karier.

Berita ini menunjukkan bahwa perang talenta tidak akan dimenangkan oleh perusahaan yang paling keras menuntut loyalitas, tetapi oleh perusahaan yang paling cerdas mengubah potensi menjadi kontribusi nyata. Gen Z tidak hanya ingin bekerja; mereka ingin merasa bahwa dirinya tidak disia-siakan.

Quote Petra

“Gen Z bukan generasi yang tidak mau bekerja; mereka adalah generasi yang terlalu sadar ketika pekerjaannya tidak lagi memberi makna, arah, dan pertumbuhan.”

Sumber

Berita Terkait

  1. Gen Z and millennial survey, Deloitte. https://www.deloitte.com/global/en/issues/work/genz-millennial-survey.html
  1. State of the Global Workplace, Gallup. https://www.gallup.com/workplace/349484/state-of-the-global-workplace.aspx
  1. Gen Z labour market analysis, The Guardian. https://www.theguardian.com/money/2026/jun/22/gen-z-earning-more-millennials-same-age-resolution-foundation