Ketika AI mulai masuk ke dokumen kepolisian, pertanyaannya tidak lagi berhenti pada efisiensi administrasi. Dalam sistem keadilan, kata-kata adalah bukti, narasi, dan dasar keputusan. Karena itu, mesin yang membantu menulis laporan polisi tidak bisa diperlakukan seperti alat kantor biasa.
The Guardian melaporkan pengakuan pejabat kepolisian Inggris bahwa teknologi AI dalam penegakan hukum akan memiliki bias, meski otoritas berjanji menanganinya. Pengakuan ini penting karena jarang ada institusi keamanan yang secara terbuka menyatakan bahwa mesin yang mereka gunakan tidak netral sepenuhnya.
Kajian arXiv tentang responsible AI untuk large language models dalam policing menyoroti perlunya tata kelola, akuntabilitas, dan kontrol manusia. LLM dapat membantu merangkum laporan, menyusun kronologi, atau mempercepat kerja administratif, tetapi ia juga dapat mengubah nuansa, menghilangkan konteks, atau menciptakan kesan kepastian yang tidak selalu ada.
UK Parliament POST dalam pembahasan facial recognition technology in policing menunjukkan bahwa teknologi kepolisian memerlukan standar yang jauh lebih ketat daripada teknologi konsumen. Kesalahan di aplikasi belanja mungkin menghasilkan rekomendasi yang buruk. Kesalahan dalam sistem kepolisian dapat menghasilkan pemeriksaan, penangkapan, atau stigma sosial.
Dorongan ini muncul ketika lembaga publik berusaha mengejar efisiensi digital. Kepolisian menghadapi beban administrasi tinggi, sementara vendor teknologi menawarkan model AI sebagai jalan pintas untuk merapikan laporan, mempercepat analisis, dan menghemat waktu petugas. Tetapi dalam sistem hukum, jalan pintas selalu membutuhkan pagar etik yang lebih tinggi.
Pendukung AI di kepolisian berargumen bahwa teknologi dapat mengurangi waktu paperwork, membuat petugas lebih banyak turun ke lapangan, dan memperbaiki konsistensi dokumen. Dalam sistem yang kekurangan personel dan menghadapi tumpukan administrasi, argumen efisiensi tentu menarik.
Tetapi akademisi hukum dan etika teknologi akan mengingatkan bahwa keadilan bukan hanya soal kecepatan. Dokumen polisi memiliki bobot institusional. Jika AI menyusun narasi dengan bias bahasa, menguatkan asumsi tertentu, atau gagal menangkap konteks sosial, maka sistem hukum bisa mewarisi kesalahan yang terlihat rapi.
Di satu sisi, AI dapat menjadi alat bantu yang berguna jika dipakai secara terbatas, diaudit, dan selalu berada di bawah tanggung jawab manusia. Ia dapat membantu merapikan informasi tanpa mengambil alih keputusan.
Di sisi lain, bahaya muncul ketika efisiensi membuat institusi terlalu percaya pada output mesin. Semakin rapi bahasa AI, semakin mudah manusia lupa bahwa teks itu tetap hasil probabilitas, bukan kebenaran.
Bagi Petra, AI kepolisian adalah ujian paling keras bagi klaim netralitas teknologi. Di ruang bisnis, bias AI bisa berarti kerugian reputasi. Di ruang hukum, bias AI bisa berarti kehidupan seseorang berubah oleh narasi yang salah.
Secara akademik, kasus ini menyentuh konsep procedural justice. Publik tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga proses yang menghasilkan keputusan. Jika prosesnya dibantu mesin yang tidak transparan, kepercayaan publik dapat melemah meski institusi mengklaim bekerja lebih cepat.
Petra menilai bahwa negara tidak boleh mengadopsi AI dengan mental startup. Penegakan hukum bukan arena eksperimen MVP. Setiap sistem yang menyentuh kebebasan warga harus lebih dulu melewati standar etik, audit, dan mekanisme banding yang kuat.
Kesimpulannya, AI dalam dokumen kepolisian bukan hal yang harus ditolak mutlak, tetapi harus dibatasi dengan sangat serius. Ia boleh membantu administrasi, tetapi tidak boleh mengaburkan tanggung jawab manusia.
Berita ini menunjukkan bahwa masa depan keadilan akan bergantung pada satu prinsip sederhana: semakin besar kekuasaan teknologi dalam negara, semakin besar pula kewajiban transparansi. Tanpa itu, mesin hanya akan membuat bias lama terlihat modern.
Quote Petra
“AI dalam kepolisian tidak boleh hanya dinilai dari seberapa cepat ia menulis laporan, tetapi dari seberapa adil ia memperlakukan manusia yang namanya masuk ke laporan itu.”
Sumber
- The Guardian – Police AI bias admission: https://www.theguardian.com/technology/2026/feb/24/police-ai-chief-admits-crime-fighting-tech-will-have-bias-but-vows-to-tackle-it
- arXiv – Responsible AI for LLMs in Policing: https://arxiv.org/abs/2603.18116
- arXiv – Mapping Probabilistic AI in Criminal Justice: https://arxiv.org/abs/2512.04116
- UK Parliament POST – Facial recognition technology in policing: https://post.parliament.uk/facial-recognition-technology-in-policing/
Berita Terkait
- Responsible AI for policing, arXiv. https://arxiv.org/abs/2603.18116
- Police AI bias admission, The Guardian. https://www.theguardian.com/technology/2026/feb/24/police-ai-chief-admits-crime-fighting-tech-will-have-bias-but-vows-to-tackle-it
- Facial recognition technology in policing, UK Parliament POST. https://post.parliament.uk/facial-recognition-technology-in-policing/




