Skip to content
Glow-Up Routine di TikTok: Perawatan Diri atau Industri Ketidakpuasan
News & Commentary

Glow-Up Routine di TikTok: Perawatan Diri atau Industri Ketidakpuasan


Glow-up routine di TikTok terlihat ringan: skincare, olahraga, journaling, outfit, rambut, dan gaya hidup yang lebih rapi. Namun di balik estetika transformasi diri, ada pertanyaan yang lebih tajam: apakah ini perawatan diri, atau industri ketidakpuasan yang mengajari remaja merasa belum cukup sejak usia terlalu muda?

Parents menyoroti kekhawatiran para ahli terhadap tren glow-up routine untuk tweens dan teens. Konten semacam ini sering dikemas positif, tetapi dapat menyampaikan pesan tersirat bahwa masa remaja harus segera diperbaiki, dipoles, dan dikurasi agar layak dilihat.

APA telah menunjukkan bahwa pengurangan penggunaan media sosial dapat berdampak pada perbaikan citra tubuh. Fakta ini relevan karena glow-up bukan hanya tren kecantikan; ia adalah bagian dari ekosistem visual yang membuat tubuh terus dibandingkan dengan tubuh lain yang sudah diedit, disinari, difilter, dan dipilih dari sudut terbaik.

Kajian tentang GymTok di arXiv memperlihatkan bagaimana konten kebugaran dapat membawa pengaruh ganda: motivasi sehat di satu sisi, tetapi juga tekanan tubuh ideal di sisi lain. Algoritma tidak memahami batas psikologis remaja; ia hanya memahami engagement.

Tren ini tumbuh dalam ekonomi video pendek yang membuat transformasi diri tampak cepat, mudah, dan wajib. Kreator menampilkan rutinitas yang rapi, brand menawarkan produk pendukung, dan remaja menerima pesan berulang bahwa menjadi diri sendiri belum cukup jika belum ada versi yang lebih estetik untuk ditampilkan.

Pendukung tren ini akan mengatakan bahwa glow-up dapat mendorong disiplin, kebersihan diri, olahraga, dan rasa percaya diri. Tidak semua transformasi diri buruk. Banyak remaja memang terbantu ketika belajar merawat diri secara sehat.

Namun dermatolog, psikolog, dan pendidik akan melihat risiko ketika rutinitas orang dewasa dipindahkan terlalu cepat ke anak-anak. Skincare berlapis, diet ekstrem, obsesi bentuk tubuh, dan konsumsi produk dapat membangun hubungan yang cemas dengan diri sendiri.

Di satu sisi, glow-up bisa menjadi bahasa generasi muda untuk mengambil kendali atas hidupnya. Ia dapat menjadi ritual perubahan, terutama bagi mereka yang merasa tidak percaya diri.

Di sisi lain, ketika glow-up berubah menjadi kewajiban sosial, ia mengajari remaja bahwa nilai diri harus dibuktikan melalui peningkatan penampilan. Perawatan diri bergeser menjadi performa diri.

Bagi Petra, glow-up adalah bentuk baru dari disiplin tubuh digital. Tubuh remaja tidak lagi tumbuh secara alami, tetapi dikawal oleh standar algoritmik yang terus berkata: kamu bisa lebih cantik, lebih kurus, lebih bersih, lebih estetik, lebih layak.

Secara akademik, fenomena ini berhubungan dengan consumer culture dan self-optimization. Kapitalisme modern tidak hanya menjual produk, tetapi menjual versi diri yang dianggap lebih bernilai. Ketidakpuasan menjadi bahan bakar konsumsi.

Petra menilai bahwa glow-up yang sehat harus dimulai dari rasa hormat terhadap diri, bukan rasa jijik terhadap diri. Jika rutinitas dimulai dari kebencian terhadap tubuh, maka hasil akhirnya tetap rapuh meski penampilan berubah.

Kesimpulannya, glow-up routine tidak harus ditolak total, tetapi harus dibaca dengan literasi kritis. Orang tua, sekolah, dan platform perlu membedakan antara perawatan diri yang sehat dan tekanan estetika yang merusak.

Remaja tidak boleh tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka adalah proyek gagal yang harus segera diperbaiki. Mereka berhak belajar merawat diri tanpa merasa bahwa diri mereka yang asli tidak cukup layak untuk dicintai.

Quote Petra

“Glow-up paling penting bukan membuat tubuh layak dilihat orang lain, tetapi membuat manusia berhenti membenci dirinya sendiri.”

Sumber

Berita Terkait

  1. TikTok glow-up routines and teens, Parents. https://www.parents.com/the-real-problem-with-tiktok-glow-up-routines-for-tweens-and-teens-according-to-experts-11998832
  1. GymTok and harmful engagement, arXiv. https://arxiv.org/abs/2606.29682
  1. Reducing social media improves body image, APA. https://www.apa.org/news/press/releases/2023/02/social-media-body-image