Skip to content
Media Sosial, Tubuh, dan Hilangnya Rasa Diri
News & Commentary

Media Sosial, Tubuh, dan Hilangnya Rasa Diri


Media sosial telah mengubah tubuh menjadi proyek yang tidak pernah selesai. Wajah, kulit, bentuk badan, gaya hidup, bahkan cara tersenyum kini terus dibandingkan, diperbaiki, dan dipamerkan. Di ruang digital, manusia bukan hanya melihat orang lain; ia belajar melihat dirinya sendiri melalui mata publik yang tidak pernah puas.

American Psychological Association menyoroti hubungan antara penggunaan media sosial dan citra tubuh, termasuk temuan bahwa pengurangan penggunaan media sosial dapat memperbaiki body image pada kelompok muda. Data ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan sekadar konten buruk, tetapi intensitas paparan dan mekanisme perbandingan sosial yang terus-menerus.

Tinjauan akademik di PMC tentang media sosial dan body image memperlihatkan bagaimana platform visual dapat memperkuat ketidakpuasan tubuh, terutama ketika algoritma mendorong konten kecantikan, kebugaran, dan transformasi diri. Algoritma tidak menciptakan ketidakamanan dari nol, tetapi ia memperbesar dan mengomersialkannya.

BYU Ballard Brief juga membahas kaitan media sosial dengan isu body image pada remaja. Remaja berada dalam fase pembentukan identitas, sehingga paparan ideal tubuh yang ekstrem dapat memengaruhi rasa diri, harga diri, dan hubungan dengan tubuh sendiri.

Dampak ini membesar sejak platform visual dan video pendek menjadi ruang utama pembentukan identitas. Remaja tidak lagi sesekali melihat standar kecantikan di majalah; mereka membawanya di saku, membukanya puluhan kali sehari, dan menerimanya dalam bentuk feed yang terasa personal tetapi dibentuk oleh logika monetisasi perhatian.

Pihak platform sering menekankan bahwa media sosial dapat menjadi ruang ekspresi, edukasi, dan komunitas. Argumen ini benar. Banyak orang menemukan dukungan, informasi kesehatan, dan representasi tubuh yang lebih beragam lewat internet.

Namun psikolog perkembangan akan mengingatkan bahwa platform tidak hanya menampilkan realitas, tetapi mengkurasi realitas berdasarkan engagement. Konten yang membuat orang merasa kurang sering lebih kuat secara ekonomi karena mendorong klik, komentar, pembelian, dan waktu layar lebih panjang.

Di satu sisi, media sosial dapat memperluas suara yang dulu tidak terlihat. Tubuh yang tidak sesuai standar arus utama bisa menemukan komunitas, narasi penerimaan, dan kekuatan representasi.

Di sisi lain, platform yang sama juga mendorong standar baru yang sama kerasnya: tubuh harus sehat, cantik, glowing, produktif, dan estetik sekaligus. Bahkan self-love dapat berubah menjadi performa baru yang harus terlihat sempurna.

Bagi Petra, krisis body image adalah krisis metafisika diri. Manusia kehilangan kemampuan mengalami tubuh dari dalam karena terlalu sibuk menilai tubuh dari luar. Tubuh bukan lagi rumah, melainkan etalase.

Secara akademik, fenomena ini dekat dengan teori objectification. Ketika seseorang terus melihat dirinya sebagai objek yang dinilai, ia kehilangan spontanitas hidup. Ia tidak lagi bertanya ‘apa yang tubuhku rasakan’, tetapi ‘bagaimana tubuhku terlihat’. Pergeseran kecil ini sangat besar dampaknya.

Petra menilai bahwa media sosial tidak hanya mengubah standar kecantikan; ia mengubah cara manusia berhubungan dengan keberadaan dirinya. Ketika validasi menjadi ukuran diri, manusia mulai hidup dari pantulan, bukan dari kesadaran.

Kesimpulannya, masalah media sosial dan tubuh tidak dapat diselesaikan hanya dengan nasihat ‘percaya diri’. Perlu literasi algoritma, batas penggunaan, pendidikan emosi, dan keberanian budaya untuk menolak standar kecantikan yang terlalu sempit.

Berita ini mengingatkan bahwa tubuh manusia bukan proyek konten. Tubuh adalah tempat hidup berlangsung. Jika generasi muda hanya mengenal tubuh sebagai objek perbandingan, maka yang hilang bukan sekadar rasa percaya diri, tetapi rasa memiliki terhadap diri sendiri.

Quote Petra

“Tubuh bukan etalase untuk algoritma; tubuh adalah rumah pertama manusia sebelum dunia meminta ia tampil sempurna.”

Sumber

Berita Terkait

  1. Reducing social media improves body image, APA. https://www.apa.org/news/press/releases/2023/02/social-media-body-image
  1. The link between social media and body image, BYU Ballard Brief. https://ballardbrief.byu.edu/issue-briefs/the-link-between-social-media-and-body-image-issues-among-youth-in-the-united-states
  1. Body image and social platforms, arXiv. https://arxiv.org/abs/2507.17755